Ok, saya tidak bisa fokus bekerja hanya karena satu hal yang mengganggu
fikiran ; Cemas menghadapi perpisahan. Saatnya menulis untuk diri saya sendiri
dan menghadapi kecemasan tersebut. semoga seperti biasanya, tulisan akan
membantu saya menghilangkan kecemasan ini.
Semesta menuliskan sepucuk suratnya untukku...
Dear Inna,
Seandainya aku bisa menghentikan waktu, akan kuhentikan waktu agar dirimu
tetap menikmati kebahagiaan ini. Kamu pantas akan kebahagiaan ini, sesuatu yang
telah dipersiapkan lama untukmu agar dirimu bisa menikmatinya di saat yang
tepat. Setelah sekian waktu perjalanan, aku terus mengingat doa-doa mu dan
sedikit demi sedikit mengurainya menjadi peristiwa yang indah, untukmu saat
ini.
Dear Inna,
Keyakinan dan pengharapanmu tentang cinta sungguh luar biasa. Luka bukan
sesuatu yang menghentikanmu dari percaya bahwa suatu hari dirimu akan bertemu
dengan seseorang yang memaknai dan melihat cinta dengan cara yang sama.
Namun lihatlah, bahkan kali ini kau pun seakan tak percaya. Kau tahu bahwa
ini melebihi segala yang pernah kau bayangkan tentang cinta. Kau tahu pasti
bahwa kau melihat cermin dirimu dalam dirinya. Kau bahkan silau dengan bayangan
dirimu sendiri di dirinya.
Aku tidak mengirim lelaki itu padamu. Dengan keyakinan dan tanganmu, dirimu
telah menjadikan doamu menjadi nyata. Lelaki yang sama mungkin datang dengan
warna yang berbeda jika keyakinan mu tentang cinta berbeda.
Aku bekerja atas panggilan hatimu, di sanalah aku bermuara dan bekerja
dengan kuasaku. Kamu mengerti maksudku?
Dear Inna,
Tidak ada yang sempurna selain dirimu sendiri yang menjadikannya sempurna.
Tidak ada yang cukup selain dirimu sendiri yang mencukupkannya bagi dirimu.
Tidak ada yang abadi.
Yakinlah selalu sebagaimana dirimu selalu. Bertahun dirimu tak gentar
berjalan sendiri, didera maki, ragu, sepi, cemas, lapar, malu, dan selalu kamu bertahan.
Yakinlah bahwa kaupun akan bertahan didera bahagia.
Dear Inna,
Jangan pernah membatasi mimpimu. Lelaki ini bukan lagi mimpimu, ia jelas
nyata bagimu. Namun ingatlah selalu, bahwa hidup selalu penuh dengan rahasia.
Kerelaan untuk melepas sesuatu yang berharga akan membawa kita pada mukjizat
luar biasa.
Aku selalu mengingatkanmu bahwa perpisahan adalah sesuatu yang terelakkan.
Waktu dan tempat hanya perpisahan yang fana, kematian adalah kepastian.
Dear Inna,
Berapa banyak perpisahan yang telah kau lewati dan lihatlah bagaimana
dirimu bertahan dan tumbuh karena nya. Jika dirimu bisa melewati semua
perpisahan itu, mengapa dirimu tak yakin bisa melewati perpisahan kali ini?
Tentu, seperti biasa dirimu kan menangis. air matamu akan meleleh lagi
menatap langit malam. Tapi tak apa, karena setelahnya dirimu akan bangkit lagi
seperti biasanya.
Jangan takut. Perpisahan kali ini hanya akan membuka pintu-pintu rahasia
berikutnya. Bukankah kau pemuja hidup? Bukankah kau ingin hidup
sehidup-hidupnya? Maka janganlah gentar untuk hidup.
Satu hal yang selalu kau ingat, aku tidak pernah meninggalkanmu bahkan pada
saat kematian.

1 Comments:
kadang kita tahu apa yang harus dilakukan, tapi masalahnya apa kita berani melakukannya? nice posting btw ....
Post a Comment